TBC (Tuberkulosis)
Pada bulan Maret ini, kita memperingati dua hari terkait kesehatan sedunia, yaitu pada tanggal 21 Maret diperingati sebagai Hari Down Syndrome Sedunia dan tanggal 24 Maret kita peringati sebagai Hari Tuberkulosis Sedunia. Khusus kali ini, Penulis ingin angkat tentang TBC, atau Tuberkulosis.
Tuberkulosis (lebih sering disingkat dengan TB), masih merupakan masalah kesehatan utama di Indonesia. Berdasarkan Global TB Report tahun 2022, dikatakan bahwa Indonesia saat ini berada pada peringkat kedua negara dengan beban TBC terbanyak di dunia setelah India, dengan perkiraan kasus baru sebanyak 969.000 kasus dan tingkat kejadian adalah 354 per 100.000 penduduk.
Sebenarnya, sejak tahun 2016 yang lalu, Pemerintah telah meningkatkan Program Penanganan TBC seperti dibawah ini:
| 2016 | : | Permenkes no 67 tahun 2016 tentang Penanggulangan TBC |
| 2018 | : | Peraturan Pemerintah no 2 tahun 2018 tentang Standar Pelayanan Minimal |
| 2019 | : | Permenkes no 4 tahun 2019 tentang Standar Pelayanan Minimal |
| 2021 | : | Perpres no 67 tahun 2021 tentang Penanggulangan TBC |
| Permendagri no 59 tahun 2021 tentang Penerapan Standar Pelayanan Minimal | ||
| 2022 | : | Proses revisi Permenkes no 67 tahun 2016 |
| Penyusunan Permenkes tentang Penyelenggaraan Sanatorium | ||
| Permenaker no 13 tahun 2022 tentang Penanggulangan TBC di Tempat Kerja |
Adapun program percepatan eliminasi dari TBC ini meliputi:
- Penemuan kasus secara aktif dan pasif (investigasi pada kontak serumah, skrining gejala dan X-ray pada pekerja, dan lain-lain)
- Peningkatan akses layanan (sarana/jejaring, layanan rujukan, kapasitas nakes, logistic, dan lain-lain)
- Perluasan Terapi Pencegahan (penyediaan tes tuberculin, obat TPT, tatalaksana pemberian terapi pencegahan, dan lain-lain)
- Penguatan surveilans (kapasitas faskes, simplifikasi SITB, penggunaan NAR TBC untuk lab pemeriksa TBC, dan lain-lain)
Target Pemerintah dan kita bersama, diharapkan bahwa 90% dari kasus tersebut harus dapat ditemukan dan diobati pada awal tahun 2024.
Tuberkulosis (TB)

Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri bernama Mycobacterium tuberculosis. Bakteri tersebut biasanya menyerang paru-paru, namun juga dapat menyerang bagian tubuh lain seperti ginjal, tulang belakang, dan otak.
Jenis TB

Secara garis besar, kita membagi TB ini menjadi dua; TB Paru dan TB Ekstra Paru. Dari namanya, TB Paru sudah pasti dijumpai pada paru, sedang TB Ekstra Paru, adalah organ/lokasi dimana dapat dijumpai TB seperti pada selaput otak, kulit, kelenjar getah bening, usus, saluran kencing, tulang dan sendi.
Cara Penularan

Penularan melalui droplet yang terinfeksi di udara. Seorang yang sedang mengalami TB dapat menularkan kepada orang lain melalui batuk, bersin, berbicara, berteriak, bernyanyi dan cara-cara serupa.
Pada saat seseorang dengan kekebalan yang kuat dan berfungsi dengan baik, saat terpapar oleh droplet tersebut, tidak mengalami gejala-gejala yang umum dijumpai. Bahkan, jika mereka telah tertular dengan bakteri tersebut, disebut dengan infeksi TB laten (tidak aktif).
Faktor Resiko
Adapun faktor-faktor yang dapat menyebabkan meningkatnya resiko terkena TB adalah sebagai berikut:
- Tinggal serumah dengan pengidap TB
- Bekerja di fasilitas kesehatan yang berkontak erat dengan orang sakit
- Bepergian ke daerah dimana kasus TB sedang tinggi
- Sedang mengalami satu penyakit, dimana diketahui pada saat sakit maka sistim kekebalan tubuh juga menurun.
- Mengkonsumsi obat-obat tertentu
- Bayi dan anak-anak yang kekebalan tubuh masih berkembang
- Orangtua/lanjut usia yang kekebalan tubuh mulai menurun
- Kebiasaan kurang sehat seperti merokok (baik aktif maupun pasif) dan minum alkohol secara berlebih.
Gejala dan Tanda
A. TB laten
Seperti disampaikan sebelumnya, pada TB laten sebagian besar tidak memberikan gejala.
B. TB aktif
- Batuk lebih dari 3 minggu
- Batuk kadang disertai dahak atau darah
- Demam
- Nyeri dada
- Keringat malam
- Nafsu makan menurun, sehingga
- Berat badan menurun
Bila TB menyebar di luar paru, maka dapat berikan gejala dan tanda sebagai berikut:
- Sistim tulang dan otot; sakit punggung, nyeri otot, kaku otot, kejang otot, tulang belakang tidak teratur
- Sistim otak; hilang kesadaran, kebingungan
- Sistim cerna; mual dan muntah
- Sistim ginjal; fungsi ginjal terganggu, darah dalam urin
Pengobatan
Obat Anti Tuberkulosis (OAT) merupakan pengobatan TB paru, yang disediakan gratis oleh Pemerintah. Hanya dengan disiplin minum OAT ini tiap hari maka bisa sembuh dari TB. Pengobatan berlangsung 6 hingga 9 bulan tergantung kondisi kesehatan, usia dan kemungkinan resistensi obat. Pada kasus yang resistensi OAT, diberikan kombinasi antibiotik dan obat suntik selama 20-30 bulan.
Pasien TB dinyatakan sembuh bila telah menyelesaikan pengobatan sesuai dengan standar, dan pada akhir pengobatan tidak dijumpai bakteri lagi pada pemeriksaan bakteriologi.
Pencegahan
Pada kenyataannya, 10% masyarakat Indonesia dijumpai bakteri penyebab TB ini. Pencegahan adalah dengan menjalankan pola hidup yang sehat dan teratur, termasuk makan dan istrahat. Juga dianjurkan untuk berhenti merokok.
Melakukan vaksinasi BCG (Bacillus Calmette-Guerin) WAJIB diberikan pada bayi berusia dibawah 3 bulan. Selain itu, juga bisa diberikan kepada usia dewasa yang belum mendapatkan vaksin saat masih bayi, terutama yang beresiko tinggi terpapar di tempat kerja.
Lima langkah pencegahan penularan TBC kepada orang lain.
- Tutup mulut saat batuk dan bersin
- Jangan meludah atau membuang dahak sembarangan
- Mengurangi interaksi sosial
- Biarkan sinar matahari dan angin masuk ke dalam ruangan
- Membatasi kontak dengan kelompok rentan.


Leave a Comment