media-cibubur.com – Memasuki hampir tiga pekan sejak bencana longsor dan banjir bandang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, jumlah korban meninggal dilaporkan terus bertambah seiring tim gabungan menyisir wilayah yang sebelumnya terisolasi, bahkan jumlahnya.tembus diangka 1.000 orang.
Selain korban jiwa, ribuan warga terpaksa mengungsi. Banyak dari mereka kehilangan rumah, sawah, serta sumber penghidupan. Situasi ini memperpanjang fase darurat dan meningkatkan kebutuhan logistik harian.

Data terbaru dari dashboard resmi BNPB melalui gis.bnpb.go.id/bansorsumatera2025 menunjukkan situasi masih berubah setiap hari.
Data Korban Terbaru
BNPB mencatat 1.016 orang meninggal hingga Senin pagi, 15 Desember 2025. Jumlah korban hilang kini berada pada angka 212 orang berdasarkan pembaruan terakhir. Angka ini dapat berubah karena proses identifikasi dan pencarian masih berlangsung.

Sebaran Korban di Tiga Provinsi
Data rinci BNPB menempatkan Aceh sebagai wilayah dengan korban jiwa tertinggi. Selain jumlah meninggal, BNPB juga mencatat korban hilang di masing-masing provinsi.
- Provinsi Aceh : 424 jiwa meninggal, 32 orang hilang. Selain itu dilaporkan kerusakan 668 fasilitas umum, 253 fasilitas kesehatan, 305 fasilitas pendidikan, 210 rumah ibadah, 261 gedung perkantoran, 36 jembatan dan lebih 138.500 rumah warga yang rusak.
- Sumatera Utara: 349 jiwa meninggal, 90 orang hilang Selain itu dilaporkan kerusakan 80 fasilitas umum, 1 fasilitas kesehatan, 60 fasilitas pendidikan, 19 rumah ibadah, 63 jembatan dan lebih 11.500 rumah warga yang rusak.
- Sumatera Barat: 243 jiwa meninggal, 90 orang hilang. Selain itu dilaporkan kerusakan 486 fasilitas umum, 65 fasilitas kesehatan, 216 fasilitas pendidikan, 205 rumah ibadah, 29 gedung perkantoran, 46 jembatan dan lebih 8.100 rumah warga yang rusak.
Berdasarkan data tersebut, besarnya jumlah korban jiwa dan kerusakan menunjukkan bahwa pemulihan akan memakan waktu lama. Kerusakan tidak hanya terjadi pada rumah warga, tetapi juga fasilitas vital seperti sekolah, rumah sakit, jembatan, dan layanan publik lainnya.
Rusaknya infrastruktur dasar membuat banyak wilayah masih terisolasi dan memperlambat distribusi bantuan serta pemulihan aktivitas ekonomi. Dengan ratusan ribu rumah terdampak dan layanan publik lumpuh, fase darurat berpotensi berlangsung panjang, bahkan melampaui hitungan bulan.
Data ini menegaskan bahwa bencana di Sumatera bukan sekadar persoalan evakuasi, melainkan tantangan pemulihan jangka panjang yang membutuhkan kesiapan serius dan langkah cepat sejak sekarang
Evakuasi dan Bantuan Dinilai Lambat
Di beberapa titik terdampak, warga mengeluhkan keterlambatan bantuan dasar seperti makanan, air bersih, dan layanan kesehatan. Medan berat, jembatan rusak, serta koordinasi yang belum solid menjadi alasan klasik yang kembali muncul.
Bahkan banyak warga yang berusaha menghampiri posko bencana dengan jarak puluhan kilometer dari daerahnya yang terisolir.

Persoalan diperparah oleh masalah kelistrikan. Janji pemulihan listrik yang sempat disampaikan kepada warga nyatanya belum terwujud sepenuhnya, banyak permukiman masih gelap. Informasi yang tidak sesuai kondisi ini memicu kebingungan dan kekecewaan warga.
Risiko Kesehatan Mulai Mengintai
Seiring waktu, ancaman baru muncul. Sanitasi yang buruk di lokasi pengungsian meningkatkan risiko penyakit, terutama pada anak-anak dan lansia. Tenaga medis memang dikerahkan, tetapi jumlahnya belum sebanding dengan luas wilayah terdampak.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa fase tanggap darurat tidak cukup hanya mengandalkan kehadiran simbolik, melainkan membutuhkan manajemen krisis yang cepat, rapi, dan transparan.
Pertanyaan Besar untuk Penanganan Bencana
Bencana di Sumatera kembali membuka beberapa pertanyaan lama: sejauh mana kesiapan negara menghadapi bencana berulang? Mengapa tidak mungkin dijadikan bencana Nasional? Mengapa pola lambatnya respons selalu terulang, meski wilayah ini dikenal sebagai kawasan rawan bencana?
Baca Artikel Lainnya :
- Wedding Fair Terbesar di Bekasi Awal 2026, Kolaborasi HARRIS Bekasi & Abhipraya Enterprises
- Kisah Sudrajat: dari Fitnah hingga Berkah
- Harga Emas Terus Menanjak: Rekor Baru Tembus Rp3,168 Juta
- Menyimpan HP Dekat Dengan Barang Elektronik Berbahaya?
- Ascott Jabotabek dan Universitas Trilogi Dorong Edukasi Lingkungan & Urban Farming di Perayaan World Environmental Education Day 2026


Leave a Comment