media-cibubur.com – Mengutip kata Bang Indro Warkop, Kompor Gas! sebuah metafora yang paling pas untuk menggambarkan gaya stand up Pandji Pragiwaksono. Tetapi kali ini, kompor itu tidak sekadar dinyalakan. Ia dibuka habis-habisan.
Api menyembur tanpa pengaman. Panasnya tak lagi terkontrol. Tidak ada knop yang diputar mundur. Tampil di panggung Netflix menyembur keras ke ruang publik. Panas, berisik, dan sulit dihindari.

Melalui stand up special bertajuk Mens Rea, Pandji tak sekadar menghibur. Ia menyalakan kritik, memantik kegelisahan, dan menjadikan tawa sebagai pintu masuk menuju persoalan serius yang selama ini dipendam banyak orang.
Tak butuh waktu lama, Mens Rea langsung melesat ke peringkat satu Netflix Indonesia dan menjadi bahan perbincangan nasional.
Disaksikan 10 Ribu Penonton
Mens Rea direkam dari pertunjukan puncak tur Pandji di Indonesia Arena, Jakarta, pada Agustus 2025. Sebuah karya Indra Yudistira dengan sekitar 10 ribu penonton memadati arena, menjadikannya salah satu pertunjukan stand up terbesar yang pernah digelar di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara.

Di panggung besar itu, Pandji tampil 2 jam tanpa sensor dan tanpa pengamanan materi. Ia tahu risiko kritik yang disampaikan, namun memilih tetap maju.
Roasting Elite Politik hingga Figur Populer
Sejumlah nama ikut disinggung dalam materi Pandji. Mulai Dharma Pongrekun yang pernah mengikuti Pilkada DKI Jakarta, Mantan Presiden Joko Widodo disebut dalam konteks kebijakan dan warisan kekuasaan. Nama Raffi Ahmad, Deddy Corbuzier, Verrell Bramasta juga turut menjadi materi roasting.
Wapres Gibran Rakabuming Raka paling banyak disinggung sebagai simbol perdebatan panjang soal program, etika politik dan non meritokrasi. Tidak lupa Presiden Prabowo pun tak lepas dari kritik tajamnya. Semua disampaikan dengan gaya satir, tanpa teriakan, tapi menusuk.
Institusi negara seperti kepolisian turut masuk dalam materi, terutama soal praktik salah tangkap dan perilaku sejumlah oknum-oknumnya. Semua dibedah lewat ironi, membuat penonton tertawa di awal, lalu terdiam ketika menyadari bahwa lelucon itu berangkat dari kenyataan.

Stand Up Naik Kelas, Bukan Sekadar Hiburan
Mens Rea menandai pergeseran penting dalam dunia stand up comedy Indonesia. Ia tak lagi berhenti pada keresahan personal, tetapi masuk ke wilayah struktural dan politik.
Pandji menunjukkan bahwa komedi bisa menjadi alat kritik sosial yang efektif, populer, dan relevan dengan situasi kebangsaan hari ini.
Stand Up di Bawah Bayang-bayang KUHP dan KUHAP
Entah karena gelombang kritik yang terus mengarah ke pemerintahan dan DPR, terutama pasca kerusuhan Agustus, ruang berekspresi justru terasa makin menyempit.
Per 2 Januari, KUHP dan KUHAP baru resmi diberlakukan. Sebuah kenyataan pahit bagi publik yang kerap merasa suara mereka hanya didengar jika cukup gaduh.

Keberadaan KUHP dan KUHAP baru ini dinilai banyak pihak berpotensi mengancam kebebasan berekspresi. Sejumlah pasal dipersepsikan dapat menjerat kritik, meski disampaikan lewat satire dan humor.
Punchline Refleksi Getir tentang Keadilan
Pandji menutup pertunjukan dengan refleksi getir tentang keadilan di Indonesia. Ia menyebut bahwa masyarakat hari ini sering kali hanya bisa mengandalkan diri sendiri.
βSatu-satunya senjata kita sekarang adalah No Viral No Justice,β ujarnya, menggambarkan situasi di mana keadilan baru bergerak jika sebuah kasus viral.
Jika tidak viral, kata Pandji, publik tak punya banyak pilihan selain berharap pada diri sendiri. Lalu ia melempar pertanyaan penutup yang menggantung di udara, kemana lagi kita bisa berharap?
Polisi kita membunuh.
Tentara kita berpolitik.
Presiden kita memaafin koruptor.
Dan wakil presiden kita⦠Gibran!!!
Sebuah penutup yang sunyi sesaat, sebelum tepuk tangan pecah
Baca Artikel Lainnya :
- Wedding Fair Terbesar di Bekasi Awal 2026, Kolaborasi HARRIS Bekasi & Abhipraya Enterprises
- Kisah Sudrajat: dari Fitnah hingga Berkah
- Harga Emas Terus Menanjak: Rekor Baru Tembus Rp3,168 Juta
- Menyimpan HP Dekat Dengan Barang Elektronik Berbahaya?
- Ascott Jabotabek dan Universitas Trilogi Dorong Edukasi Lingkungan & Urban Farming di Perayaan World Environmental Education Day 2026


thanks for info.