media-cibubur.com – Di layar televisi, kamera menyorot persimpangan padat di Cibubur. Dari ketinggian, sebuah drone terlihat melayang stabil, mengawasi arus kendaraan yang tak pernah benar-benar sepi.
Bukan adegan film futuristik, melainkan wajah baru penindakan lalu lintas. Polisi lalu lintas kini resmi menggunakan ETLE Drone.

Resmi Beroperasi Sejak 9 Januari 2026
Korlantas Polri resmi memulai pengoperasian ETLE Drone Patroli Presisi sejak Jumat, 9 Januari 2026. Kawasan Jalan Raya Cibubur Jakarta Timur ditetapkan sebagai titik pertama penerapan teknologi ini, terutama di sejumlah lokasi yang selama ini dikenal rawan pelanggaran lalu lintas.
Pemilihan Cibubur bukan tanpa alasan. Kepadatan kendaraan yang tinggi dan pola pelanggaran yang berulang dinilai ideal untuk menguji efektivitas pengawasan berbasis udara.
Dari hasil uji coba, drone dinilai mampu merekam pelanggaran secara real time dan menjangkau area yang sulit dipantau kamera statis.

Data Langsung Terintegrasi
ETLE Drone dilengkapi kamera beresolusi tinggi yang mampu menangkap berbagai jenis pelanggaran, mulai dari menerobos lampu merah, melawan arus, hingga pengendara tanpa perlengkapan keselamatan.
Seluruh rekaman pelanggaran langsung terhubung dengan sistem ETLE nasional dan menjadi bukti elektronik yang sah. Dengan mekanisme ini, penindakan tidak lagi bergantung pada kehadiran fisik petugas di lapangan, melainkan pada data digital yang tercatat dan terverifikasi.
Konsep ini juga disebut mampu meminimalkan interaksi langsung antara petugas dan pengendara, sekaligus mempersempit ruang perdebatan dan transaksi di jalan.
Warganet Banyak yang Pesimistis
Seiring mulai beroperasinya ETLE Drone, perbincangan di media sosial pun menghangat. Warganet ramai mengomentari kehadiran drone polisi ini, namun nuansanya tak sepenuhnya positif.
Banyak komentar bernada pesimis dan kritis. Nada menghujat pun tak terhindarkan, terutama terkait konsistensi inovasi yang dinilai kerap berganti.

Antara Modernisasi dan Ujian Kepercayaan Publik
Pengoperasian ETLE Drone ini hadir di tengah publik yang masih menunggu hasil nyata kerja Komisi Reformasi Polri. Janji pembenahan institusi belum sepenuhnya terjawab, sementara kepercayaan masyarakat masih berada di titik rawan.
Pada saat bersamaan, kepolisian secara masif menampilkan berbagai konten bernuansa kebaikan di media sosial hingga berita di televisi nasional.
Narasi humanis dan aksi positif aparat terus diproduksi, seperti membantu mengganti ban, mendorong mobil mogok dan lainnya. Narasi ini seolah menjadi upaya memulihkan citra yang sempat tergerus terutama saat kerusuhan Agustus lalu.
Lalu ETLE Drone muncul. Langit kini mengawasi jalan raya, tetapi sesungguhnya masyarakat lebih menunggu reformasi yang benar-benar menyentuh akar masalah.
Baca Artikel Lainnya :
- Wedding Fair Terbesar di Bekasi Awal 2026, Kolaborasi HARRIS Bekasi & Abhipraya Enterprises
- Kisah Sudrajat: dari Fitnah hingga Berkah
- Harga Emas Terus Menanjak: Rekor Baru Tembus Rp3,168 Juta
- Menyimpan HP Dekat Dengan Barang Elektronik Berbahaya?
- Ascott Jabotabek dan Universitas Trilogi Dorong Edukasi Lingkungan & Urban Farming di Perayaan World Environmental Education Day 2026


Leave a Comment