Home Β» Solusi Darurat Sampah Tangsel, Masalah Baru bagi Wilayah Lain
Darurat Sampah Tangsel

Solusi Darurat Sampah Tangsel, Masalah Baru bagi Wilayah Lain

Media-cibubur.com – Kenangan buruk warga Cibubur saat iring-iringan truk sampah melintas, membawa bau menyengat yang tertinggal lama di udara dapat terulang kembali.

Pagi hari di jalan yang biasa dilewati untuk berangkat kerja dan mengantar anak sekolah akan terasa berbeda. Udara berat, hidung perih, dan di beberapa titik terlihat lindi menetes di aspal.

Truk-truk itu bukan milik Kabupaten Bogor atau Jakarta. Itu adalah sampah dari Tangerang Selatan.

Sampah Tangsel Menggunung, Kota Masuk Fase Darurat

Masalah ini bermula dari terganggunya sistem pembuangan sampah di Tangerang Selatan. TPA Cipeucang ditutup sementara untuk perbaikan dan penataan.

Penutupan ini membuat alur pembuangan tersendat dan dalam hitungan hari, sampah rumah tangga mulai menumpuk di berbagai sudut kota.

Tumpukan terlihat di pinggir jalan, kolong flyover, hingga area padat aktivitas warga. Bau menyebar, keluhan muncul dari berbagai arah, dan wajah kota berubah kusam.

Situasi ini berlangsung beberapa hari hingga memaksa pemerintah kota mengambil langkah darurat agar sampah tidak sepenuhnya meluber ke ruang publik.

Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie mengakui bahwa persoalan sampah menjadi masalah besar tahun ini dan menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan.

Ditolak Serang, Sampah Dialihkan ke Cileungsi

Ketika pengiriman sampah ke wilayah Serang dihentikan akibat penolakan warga setempat, Pemkot Tangsel mengambil langkah cepat. Sekitar 200 ton sampah dialihkan ke Cileungsi, Kabupaten Bogor, selama kurang lebih dua pekan.

Di Tangsel, hasilnya terlihat jelas. Sampah di pinggir jalan mulai diangkut. Ruas-ruas yang sebelumnya dipenuhi kantong plastik perlahan bersih. Aktivitas kota kembali normal. Dari sisi pemerintah kota, krisis dianggap mereda dan senyumpun dapat mengembang.

Namun persoalan tidak benar-benar selesai. Bebannya berpindah wilayah.

Sampah Dibakar, Bukan Ditumpuk

Di Cileungsi, beredar isu bahwa sampah Tangsel akan menumpuk liar. Klaim tersebut dibantah Β Camat Cileungsi, Adi Hendryana. Ia menegaskan bahwa sampah dari Tangsel tidak dibuang terbuka di jalan atau TPS liar.

Menurut camat, sampah tersebut masuk ke fasilitas pengolahan milik PT Aspex Kumbong dan dimusnahkan melalui proses pembakaran menggunakan insinerator.

Proses ini dilakukan secara tertutup dengan suhu tinggi hingga sampah berubah menjadi abu. Dengan mekanisme tersebut, tidak ditemukan tumpukan besar sampah terbuka di wilayah Cileungsi sebagaimana yang ramai dibicarakan.

Namun, penjelasan tersebut meninggalkan satu fakta yang tak bisa diabaikan. Sebelum sampah dibakar, ada proses pengangkutan yang tak terhindarkan. Truk-truk sampah tetap harus melintas di jalan umum, melewati kawasan permukiman dan jalur aktivitas warga.

Di titik inilah dampak nyata muncul: bau menyengat, tetesan lindi, serta ketidaknyamanan yang dirasakan langsung oleh masyarakat sepanjang rute pengangkutan.

Minimnya Koordinasi

Di sisi lain, Kepala DLH Kabupaten Bogor, Teuku Mulya, menegaskan bahwa hingga saat ini pihaknya belum menerima koordinasi atau pemberitahuan resmi apapun dari Pemkot Tangsel.

Menurut DLH, sikap Pemkot Tangsel dinilai mengabaikan etika administrasi antar-daerah. Mengingat Kabupaten Bogor menjadi lokasi terdampak, koordinasi seharusnya dilakukan jauh sebelum operasional pengiriman sampah berjalan.

Pernyataan ini memperlihatkan bahwa persoalan bukan semata pada teknis pengolahan, tetapi juga pada tata kelola dan komunikasi antar pemerintah daerah.

Solusi Pengolahan Sampah Tak Bisa Ditunda

Kasus ini menegaskan satu hal penting. Masalah sampah perkotaan tidak bisa terus diselesaikan dengan cara memindahkan lokasi pembuangan. Produksi sampah terus meningkat setiap hari, sementara kapasitas TPA semakin terbatas dan banyak yang sudah mendekati penuh.

Solusi pengolahan sampah yang serius dan berkelanjutan sudah menjadi kebutuhan mendesak. Pengurangan sampah dari sumber, pemilahan, pengolahan organik, daur ulang, hingga teknologi pengolahan modern harus berjalan seiring, bukan hanya muncul saat krisis.

Jika tidak, pola yang sama akan terus berulang. Sampah dipindahkan, kota asal kembali bersih, sementara wilayah lain menanggung bau, lindi, dan ketidaknyamanan yang tidak pernah mereka hasilkan, seperti yang akan dirasakan Cibubur dan Cileungsi.

Baca Artikel Lainnya :

More Reading

Post navigation

Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Register

Reset Password

Please enter your username or email address, you will receive a link to create a new password via email.