media-cibubur.com – Persoalan sampah kembali memunculkan tragedi. Gunungan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, runtuh dan menimbun sejumlah orang yang sedang beraktivitas di lokasi tersebut.
Peristiwa terjadi pada Minggu sore, 8 Maret 2026 ketika aktivitas bongkar muat sampah masih berlangsung. Tumpukan sampah raksasa yang menjulang puluhan meter tiba-tiba longsor dan menimpa area di sekitarnya, termasuk jalur operasional truk serta beberapa bangunan sederhana yang digunakan pedagang dan pekerja.

Saat kejadian, sejumlah sopir truk, pemulung, dan pedagang berada di sekitar lokasi. Longsoran sampah datang secara mendadak sehingga banyak orang tidak sempat menyelamatkan diri.
Total 13 Orang Jadi Korban
Hingga Senin, jumlah korban yang tercatat mencapai 13 orang. Dari jumlah tersebut empat orang dilaporkan meninggal dunia dan empat orang telah ditemukan.
Sementara itu lima orang lainnya masih belum ditemukan dan diduga tertimbun material sampah. Tim pencarian masih terus melakukan penyisiran di area longsor dengan menggunakan alat berat.
Proses evakuasi berlangsung cukup sulit karena material sampah yang sangat tebal dan kondisi tumpukan yang labil. Petugas harus bekerja hati-hati untuk menghindari kemungkinan longsor susulan.

Evakuasi Libatkan Tim Gabungan
Tim gabungan dari berbagai unsur dikerahkan untuk melakukan pencarian dan evakuasi korban. Alat berat digunakan untuk membuka timbunan sampah yang menutup area kejadian.
Selain fokus mencari korban yang masih hilang, petugas juga berupaya menata kembali jalur operasional truk pengangkut sampah yang sempat tertutup longsoran.
Beberapa kendaraan yang berada di sekitar lokasi juga ikut tertimbun material sampah.
Menteri LH Tinjau Lokasi Minggu Malam
Peristiwa ini juga langsung mendapat perhatian pemerintah pusat. Presiden memberikan perhatian khusus terhadap tragedi ini dengan mengutus Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq untuk meninjau langsung lokasi pada Minggu malam.
Dalam kunjungan tersebut, Menteri Lingkungan Hidup melihat langsung proses evakuasi korban dan kondisi gunungan sampah yang runtuh. Pemerintah juga akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan sampah di TPST Bantargebang.

Menurut Hanif, tragedi ini menjadi alarm keras bahwa sistem pengelolaan sampah yang ada saat ini harus segera dibenahi. Selama ini Bantargebang menampung puluhan juta ton sampah dari Jakarta selama puluhan tahun dan kini telah berada pada kondisi beban yang sangat kritis.
Ia juga menegaskan bahwa metode open dumping yang masih digunakan tidak boleh terus dibiarkan karena berpotensi membahayakan keselamatan manusia serta mencemari lingkungan.
Saatnya Berbenah Mengolah Sampah
Tragedi di Bantargebang kembali menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak bisa terus ditangani dengan cara lama. Gunungan sampah yang terus meninggi pada akhirnya berubah menjadi ancaman nyata bagi manusia.
Karena itu diperlukan solusi cepat dan nyata agar sampah tidak lagi hanya ditumpuk, tetapi diolah menjadi sesuatu yang berguna. Mulai dari energi, bahan bakar alternatif, hingga produk daur ulang yang memiliki nilai ekonomi.
Jika langkah pembenahan tidak segera dilakukan, gunung sampah seperti di Bantargebang hanya akan semakin tinggi dari tahun ke tahun. Dan ketika gunung itu runtuh, yang paling rentan menjadi korban adalah mereka yang setiap hari bekerja di sekitarnya.
Cek informasi lain di : https://twitter.com/themediacibubur


Leave a Comment